Senin, 27 Oktober 2014




Tony Q Rastafara



Tony Waluyo Sukmoasih (populer dengan nama Tony Q atau Tony Q Rastafara; lahir di SemarangJawa Tengah27 April 1961; umur 53 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia beraliran reggae yang telah aktif di ragam tersebut sejak tahun 1989. Dia bersama grup musiknya Rastafara memopulerkan istilah "rambut gimbal" (gaya rambut dreadlock) di Indonesia lewat lagu dengan judul yang sama pada tahun 1996. Tony Q telah menjadi ikon musik reggae Indonesia. Dia dianggap sebagai pelopor reggae di Indonesia, karena dia tak hanya berkecimpung di ragam tersebut sejak lama, namun juga mengembangkan karakter musik reggaenya sendiri, dimana dia memasukkan banyak unsur tradisional Indonesia ke musiknya, dan mengangkat tema-tema khas Indonesia dalam musiknya . 

Kehidupan pribadi



Tony Q adalah seorang lulusan STM Perkapalan di Semarang. Sebelum terjun ke dunia musik, pada tahun 1980 Tony Q pernah bekerja selama enam bulan di bagian quality control (pengendalian mutu) di sebuah pabrik pengalengan milik perusahaan Singapura di CakungJakarta Timur. Namun kemudian dia meninggalkan pekerjaan tersebut dan memilih untuk menjadi pengamen di jalanan dan seorang musisi, menghadapi tentangan keras keluarganya. Dia sempat menjadi pengamen selama lima sampai enam tahun di daerah Blok MJakarta . 


Karier musik



Menurut wawancara dengan Tony Q di Radio Nederland Wereldomroep, sebelum terjun di musik reggae, dia pernah memainkan bluesrock, bahkan musik country. Tahun 1989 dia akhirnya memilih menekuni musik reggae yang menurutnya tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Tony Q mengaku sangat mengidolakan Bob Marleyalmarhum musisi reggae kenamaan asal Jamaika .


Bersama Rastafara



Tony Q memulai karier musik reggaenya sejak tahun 1989 dengan grup musik Roots Rock Reggae. Biasa manggung dari kafe ke kafe atau acara pentas musik yang ada diJakarta. Setelah tergabung dengan banyak band reggae seperti Exodus dan Rastaman, akhirnya pada tahun 1994 dia membentuk grup musik Rastafara yang menjadi cukup terkenal sebagai pengusung aliran musik reggae di Indonesia saat itu. Bersama Rastafara dia sempat merilis dua album, yaitu "Rambut Gimbal" (1996) dan "Gue Falling In Love" (1997).
Hampir semua lagu dalam album tersebut diciptakan Tony Q, dengan lirik lagu yang banyak bertema sosialkemanusiaancinta, dan kehidupan masyarakat sehari-hari. Salah satu lagunya yang populer adalah "Rambut Gimbal", sebuah istilah untuk gaya rambut dreadlock yang kerap digunakan oleh pengikut Gerakan Rastafari, yang kemudian secara tidak langsung dijadikan istilah dalam bahasa Indonesia yang menjadi populer karena lagu tersebut.
Rastafara saat itu dinilai berbeda dengan grup musik reggae lainnya karena mereka berhasil memasukan dan memadukan unsur-unsur musik dan instrumen tradisional khas Indonesia ke dalam musiknya sehingga terbentuklah musik reggae ala Indonesia yang bisa terlepas dari bayang-bayang musik reggae negara lain seperti Bob MarleyUB40 atauJimmy Cliff. Penggunaan alat-alat musik tradisional seperti Kendang Sunda atau Gamelan Jawa ikut menambah warna musik dalam lagu-lagu Rastafara. Dan pada aransemenmusiknya sepintas juga terlihat unsur-unsur musik Melayu, musik khas daerah Sumatera Utara, atau Sumatera Barat.
Pada tahun 1997 Rastafara memutuskan untuk vakum dalam musik karena kurangnya pasar musik reggae di Indonesia. Tony Q kemudian melanjutkan kariernya dengan membentuk band baru dengan tetap membawa nama Rastafara. Tahun 1998 terbentuklah Tony Q & New Rastafara, dengan format band mendapat pemain tambahan. Tetapi kemudian tahun 2000 Tony Q memutuskan untuk memulai karier solo dengan tetap membawa nama grup musik yang telah membuatnya dikenal oleh para penggemarnya, yaituTony Q Rastafara .


Karier musik solo



Tahun 2000 Tony Q yang sekarang dikenal dengan nama Tony Q Rastafara berhasil merilis album solonya yang pertama, "Damai Dengan Cinta" tanpa dinaungi perusahaan rekaman. Pada album solo pertamanya ini Tony Q mulai mengalami puncak kariernya dalam musik reggae. Setelah mendengar album pertamanya tersebut, seorang profesor di bidang musik dari Kanada memberikan Tony Q referensi untuk mengirimkan demo untuk ikut dalam ajang Bob Marley Festival di Amerika Serikat. Pihak penyelenggara festival tersebut menyukai lagu-lagu yang ada di demo tersebut dan kemudian mengundang Tony Q untuk tampil diacara yang sama pada tahun 2002. Namun keberangkatan Tony Q beserta rombongannya ke festival tersebut terpaksa batal karena mereka tidak mendapat izin visa dari Kedutaan Amerika dikarenakan alasan keamanan terkait terjadinya "Peristiwa 9/11" di Amerika Serikat yang terjadi berdekatan dengan rencana keberangkatan Tony Q.
Tahun 2003 Tony Q Rastafara merilis album solonya yang kedua berjudul "Kronologi". Lagu dalam album tersebut merupakan kumpulan dari beberapa lagu dari album-album Tony Q sebelumnya dan juga beberapa lagu yang belum sempat dirilis. Tahun 2005 Tony Q merilis album "Salam Damai". Dalam album ini Tony Q mencoba menggabungkan musik reggae dengan unsur instrumen tradisional Indonesia. Dalam album tersebut terdapat lagu dengan lirik bahasa Sunda ("Paris Van Java") dan Jawa ("Ngajogjakarta") yang semakin menambah kental unsur tradisional Indonesia dalam musik reggae . Pada tahun 2005 lagu "Pat Gulipat" dari album solo pertamanya "Damai Dengan Cinta", masuk ke dalam album kompilasi musik "Reggae Playground" yang dirilis bulan Februari2006 di bawah perusahaan rekaman Putumayo World Music, sebuah label rekaman yang berbasis di New YorkAS.
Tahun 2009 Tony Q merilis album "Presiden" dalam rangka maraknya Pemilu 2009 di Indonesia. Menurut Tony Q, album ini dirilis untuk memberikan wacana ke masyarakat penggemar musik reggae supaya tahu bagaimana menyikapi kondisi politik saat itu. Musik dalam album ini kembali menghadirkan unsur tradisional Indonesia seperti kendangSundagamelansitar Jawa, tamburin, bahkan trompet reog .

Minggu, 26 Oktober 2014

BOB MARLEY



BOB MARLEY



Robert Nesta "Bob" Marley OM (6 February 1945 – 11 May 1981) was a Jamaican reggae singer-songwriter, musician, and guitarist who achieved international fame and acclaim . Starting out in 1963 with the group the Wailers, he forged a distinctive songwriting and vocal style that would later resonate with audiences worldwide. The Wailers would go on to release some of the earliest reggae records with producer Lee Scratch Perry . After the Wailers disbanded in 1974 , Marley pursued a solo career which culminated in the release of the album Exodus in 1977 which established his worldwide reputation and produced his status as one of the world's best-selling artists of all time, with sales of more than 75 million records . He was a committed Rastafari who infused his music with a sense of spirituality .

Early life and career

Robert Nesta Marley was born on the farm of his maternal grandfather in Nine MileSaint Ann ParishJamaica, to Norval Sinclair Marley and Cedella Booker . Norval Marley was a European-Jamaican of British heritage. Norval claimed to have been a captain in the Royal Marines, though at the time of his marriage to Cedella Booker, an African-Jamaican then 18 years old, he was employed as a plantation overseer . Though Bob Marley was named Nesta Robert Marley, a Jamaican passport official would later reverse his first and middle names . Norval provided financial support for his wife and child but seldom saw them as he was often away. Bob Marley attended Stepney Primary and Junior High School which serves the catchment area of Saint Ann .  In 1955, when Bob Marley was 10 years old, his father died of a heart attack at the age of 70 . Marley and Neville Livingston (later known as Bunny Wailer) had been childhood friends in Nine Mile. They had started to play music together while at Stepney Primary and Junior High School . Marley left Nine Mile with his mother when he was 12 and moved toTrenchtown, Kingston. Cedella Booker and Thadeus Livingston (Bunny Wailer's father) had a daughter together whom they named Pearl, who was a younger sister to both Bob and Bunny. Now that Marley and Livingston were living together in the same house in Trenchtown, their musical explorations deepened to include the latest R&B from American radio stations whose broadcasts reached Jamaica, and the new Ska music .  The move to Trenchtown was proving to be fortuitous, and Marley soon found himself in a vocal group with Bunny Wailer, Peter ToshBeverley Kelso and Junior BraithwaiteJoe Higgs, who was part of the successful vocal actHiggs and Wilson, resided on 3rd St., and his singing partner Roy Wilson had been raised by the grandmother of Junior Braithwaite. Higgs and Wilson would rehearse at the back of the houses between 2nd and 3rd Streets, and it wasn't long before Marley (now residing on 2nd St), Junior Braithwaite and the others were congregating around this successful duo . Marley and the others didn't play any instruments at this time, and were more interested in being a vocal harmony group. Higgs was glad to help them develop their vocal harmonies, although more importantly, he had started to teach Marley how to play guitar — thereby creating the bedrock that would later allow Marley to construct some of the biggest-selling reggae songs in the history of the genre .